Selasa, 25 November 2008

"Lebaran Kurban"

Hikmah Idul Adha

Saat fajar meniyingsing naik di ufuk Timur, benang-benang putih di kaki langit seakan menyambut iring-iringan gema takbir, tahlil dan tahmid yang sedang berkumandang. Tertangkaplah suatu isyarat halus yang dipancarkan oleh cahaya fajar dari ufuk Timur seakan menghimbau kehidupan bersemesta untuk bangkit serempak mengusir kegelapan panjang yang lama membelenggu kehidupan bersemesta. Laksana seseorang yang tersentak dari lamunan panjang. Demikianlah kehidupan bersemesta tergugah bangkit oleh adanya belaian lembut cahaya fajar dan sapaan merdu dari alunan gema takbir, tahlil dan tahmid. Sujud tersungkur jiwa semesta menyambut uluran kasih Ilaahi yang telah melepaskan ruh-ruh semesta dari belenggu kegelapan yang panjang




Ke-Agungan-Nya, ke-Esaan-Nya nyata terpapar dalam perbuatan-Nya yang disifati rasa kasih. Semakin dalam terserap dan terasa sifat rasa kasih yang telah diulurkan-Nya, tercetuslah dari dalam jiwa yang paling dalam ungkapan rasa syukur di balik sikap yang tersungkur sujud. Namun tidak lanjut dari rasa syukur tidak hanya terbatas pada sikap diri yang tersungkur sujud, tetapi berkelanjutan pada sikap perbuatan yang didorong oleh kebulatan tekad untuk mewujudkan kebangkitan hidup terpadu. Nyatalah dalam kehidupan bersemesta, syukur yang diwujud-nyatakan adalah bersikap terus menerus hidup tumbuh-berkembang memberikan hasil yang bermanfaat-guna, meskipun berada dalam penekanan dan pemaksaan yang tidak henti-hentinya oleh tangan-tangan serakah yang hanya mencari keuntungan pribadi.

Bagaimana rasa syukur tidak akan mendorong diri untuk mewujudkan pada sikap, sementara diri dari saat ke saat terus menerus didorong dan didesak-Nya agar jatuh ke dalam lautan Ke-Maha-Besaran-Nya dan ke-Maha-Muliaan-Nya. Sirna diri yang hina dalam lautan ke-Maha-Besaran-Nya dan ke-Maha-Muliaan-Nya. Sepintas kilas mata memandang akan tampak sebagai orang mendapat kedudukan termulia di sisi-Nya. Padahal kemuliaan yang terpandang itu adalah laksana orang yang mengenakan pakaian pada badannya. Di balik pakaian terdapat unsur-unsur yang sangat memalukan.

Demikianlah itulah semesta khususnya tanaman, saat demi saat senantiasa memancarkan keindahan Asma Allah. Meskipun ada tangan-tangan serakah yang hendak menodai keindahan yang sedang dipancarkan oleh tanaman, bagi tanaman tidak dipedulikan. Di balik keindahan Asma Allah yang ditampilkan oleh tanaman sebenarnya sedang berlangsung proses lenyapnya tanaman. Bagi manusia yang melihat dengan mata kepala, keindahan yang sedang ditampilkan oleh alam akan terpandang sebagai keindahan alam itu sendiri. Padahal di balik keindahan-keindahan yang dipancarkan oleh semesta khususnya tanaman, di sanalah terwujudnya aktivitas kebangkitan demi kebangkitan yang dilakukan oleh semesta, khususnya tanaman adalah setiap terjadi kelayuan dan kekeringan pada daun, lebih baik memilih mencampakkan semua kelayuan atau kekeringan yang tersandang. Meskipun sesaat tampak tidak ada keaktifan yang sedang dilangsungkan oleh tanaman, namun setelah kelayuan atau kekeringan daun berhasil digugurkan, barulah kemudian secara bertahap sang tanaman bangkit mengeluarkan daun-daun baru memberikan kesegaran dalam arti lebih muda.

Di balik proses alam, khususnya tanaman yang bersikap meninggalkan kehidupan tua layu dan kering, kemudian memproses diri mempersiapkan daun muda yang segar, merupakan suatu isyarat tajam yang diarahkan kepada manusia: “bahwasanya pola lama yang tidak bisa menghidupkan suatu kesegaran baru dalam suatu kehidupan, lebih baik dikorbankan dalam arti dibiarkan”. Proses selanjutnya mempersiapkan tunas-tunas baru untuk kebangkitan yang lebih segar. Hal demikian ini telah digambarkan Ibrahim a.s. dalam serentetan peristiwa.

Pengorbanan Ismail a.s. sebenarnya terkandung maksud bahwa untuk mewujudkan kebangkitan ada di pundak pemuda-pemuda selaku tunas bangsa. Pemuda tidak asal pemuda (dalam arti hanya usianya saja yang terpandang muda). Tetapi pemuda yang dimaksud adalah pemuda yang telah bersedia sejak usia dini membuang atau melepas habis seluruh sifat kebinatangan. Karena untuk mewujudkan suasana kebangkitan hidup terpadu harus bersih dari sifat kebinatangan. Sebagai bahan renungan untuk dijawab dalam diri masing-masing ialah bila seseorang sedang menabur benih dalam suatu ladang, kemudian benih itu tampak mulai bersemi, “dapatkah benih yang mulai bersemi itu tumbuh dengan baik sementara di dalam ladang masih banyak terdapat hewan pemakan daun, seperti kambing dan sapi?” sedangkan yang namanya hewan kambing dan sapi paling suka dengan tanaman yang beru saja mulai bersemi. Berarti agar benih tanaman dapat tumbuh dengan baik menciptakan suasana segar, hewan-hewan seperti kambing dan sapi harus dikorbankan dalam arti harus dikeluarkan dari kebun tersebut. Demikian itulah maksud dikorbankannya sifat kebinatangan pada jiwa seorang pemuda yang akan mengadakan kebangkitan hidup terpadu.

Dengan demikian terjawablah sudah, mengapa ‘Iedul Adha dikatakan sebagai hari raya besar bagi ummat Islam? Karena di dalam ‘Iedul Adha mengandung suatu himbauan khususnya terarah pada kaum pemuda untuk senantiasa mengadakan gerakan kebangkitan yang bersifat terpadu. Jika kebangkitan terpadu dapat terwujud dalam suatu kehidupan ummat manusia, maka itulah kemenangan muthlaq. Dengan kebangkitan akan membawa KEHIDUPAN MENUJU JENJANG KESEMPURNAAN HIDUP DENGAN KEINDAHAN KEMAKMURAN YANG BERSAHAJA. Gambaran kehidupan demikian ini sungguh menjadi harapan dan cita-cita bagi segenap kehidupan bersemesta yang ulet mempertahankan keindahan Asma Allah. Bagaimanakah pendangan orang-orang yang melihat dengan mata hati di balik keindahan yang sedang ditampilkan oleh alam? Sebenarnya alam itu sendiri tidak “ada”. Adapun dia (alam) terpandang “ada” dengan bukti keindahan yang sedang ditampilkan, namun keberadaannya sedang berada di balik keindahan Asma Allah. Dengan adanya kenyataan justru alam terus menerus mengadakan gerakan kebangkitan hidup terpadu, tampak-tampaknya nilai-nilai pelajaran yang terkandung di dalam Al Qur’an banyak disikapi oleh alam. Sementara manusia yang dicipta dengan kesempurnaan potensi diri, justru dari saat ke saat hanya kerusakan demi kerusakan yang dilangsungkan.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum (30) : 41)

Sudah demikian rupa sikap alam melestarikan kebangkitan hidup. tetapi masih juga menjadi korban kebodohan manusia berfikir. Dengan kenyataan banyak kehidupan bersemesta menjadi korban kebodohan berfikir manusia akan memberikan suatu kesan mendalam bahwa manusia berbuat tidak menggunakan perhitungan tepat berguna.

Bagaimana perhitungan tepat berguna dapat dilakukan jika rasa syukur tidak mewarnai setiap langkah perbuatan manusia ….. اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ Jika semesta mampu menyerap banyak akan keindahan Asma Allah seharusnya manusia selaku makhluq yang paling sempurna dicipta Allah akan lebih banyak menyerap sifat keindahan Asma Allah daripada kehidupan alam semesta, karena dirinya adalah selaku makhluq yang termulia di sisi Allah.

“dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluq yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al Israa’ (17) : 70).

Namun kenyataannya, saat demi saat manusia lebih suka menenggelamkan diri di lautan kebodohan dan kehinaan. Diri manusia sudahlah hina masih ditambah dengan tutupan pakaian hina. Digambarkan laksana seseorang kotor berpenyakitan berpakaian compang-camping hanya akan menambah buruknya penglihatan pada orang tersebut. Maka salah satu maksud di balik gema takbir, tahlil dan tahmid yang terus berkumandang di hari tasyrik merupakan isyarat himbauan kepada manusia khususnya himbauan kepada kaum pemuda untuk bersegera bangkit melepaskan atau mengorbankan pakaian keburukan dan kebodohan yang cukup lama tersandang-lekat pada diri. Kemudian berganti dengan pakaian keindahan dan kecerdikan. Di dalam Al Qur’an telah dinyatakan: “seindah-indah pakaian adalah pakaian taqwa”. Salah satu ciri khas pakaian taqwa adalah berhiaskan keindahan dan kecerdikan. Belum bisa seseorang dikatakan berpakaian taqwa jika keindahan dan kecerdikan belum tampak pada sikap dirinya. Bagi manusia yang dirinya tenggelam di lautan ke-Maha-Besaran Allah dan ke-Maha-Muliaan Allah itulah mereka yang banyak menyerap sifat indah Asma Allah.

Semakin dalam rasa kasih Ilaahi terserap jauh hingga mencapi relung-relung hati paling dalam, semakin banyak pula rangkaian pengertian indah berhikmah seperti: “semesta yang telah Ia Allah rentangkan dalam kesempurnaan yang nyata adalah untuk membawa tingkat kehidupan pada jenjang kesempurnaan martabat”.

“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS. Al Insyiqaaq)

sebagaimana sifat Asma-Nya selaku Rabb Yang Maha Sempurna, yang berarti dari saat ke saat suasana kebangkitan terpadu harus diciptakan oleh manusia. Bukan sebaliknya suasana kerusakan demi kerusakan yang akhirnya menjurus pada kehancuran. Dalam hal ini manusialah yang telah ditetapkan selaku makhluq yang mampu menciptakan suasana kebangkitan terpadu dari saat ke saat sampai dapat diraih jenjang kesempurnaan hidup. pertanyaan: “mengapa suasana kebangkitan terpadu dipercayakan kepada manusia?” karena manusialah selaku makhluq yang dicipta dengan potensi diri utuh dalam kesempurnaan.

Dengan adanya potensi diri utuh dalam kesempurnaan itulah yang akan dijadikan sebagi modal penunjang terciptanya suasana kebangkitan hidup terpadu. Sedangkan selaku makhluq yang memiliki sifat perusak dan suka membawa kehidupan pada jenjang kebodohan dan kehinaan, khususnya dalam hal memperdaya manusia, agar perbuatan senantiasa menjurus pada kerusakan dan kehancuran adalah Iblis. Ini bukan berarti keberadaan Iblis di tengah-tengah perbuatan manusia adalah untuk menyaingi manusia atau untuk memperdaya manusia. Tetapi justru untuk memperlihatkan kepada Iblis bahwa manusia itu tetap dalam posisi terunggul. Untuk membuktikan bahwa manusia berposisi terunggul adalah dari hasil perbuatannya yang dari saat ke saat senantiasa menciptakan suasana kebangkitan hidup terpadu.

Untuk mewujudkan kebangkitan hidup bersifat terpadu Allah telah menurunkan petunjuk-petunjuk-Nya melalui Al Qur’an dan Al Hadits. Hanya saja untuk menyerap petunjuk-petunjuk yang ada di dalam Al Qur’an dan Al Hadits memang memerlukan kehalusan rasa dan mata hati yang terbuka. Hendaknya disadari, petunjuk paling berbobot bersifat keilmuan murni terdapat di balik pengertian yang tersurat. Sedangkan salah satu modal untuk menciptakan suasana kebangkitan hidup terpadu adalah keilmuan murni. Jika kehalusan rasa dan mata hati yang terbuka tidak dimiliki oleh seseorang, akan sulit baginya untuk menangkap pengertian yang ada di balik suratan Al Qur’an. Laksana akar tanaman yang mengalami kesulitan saat menyerap sari pati tanah yang dalam keadaan keras dan kering. Sebaliknya bila kehalusan rasa manusia dan mata hati terbuka dapat menyingkap pengertian di balik yang tersurat, maka wujud petunjuk yang diberikan langsung ke dalam hati sebagaimana yang tersirat dalam firman-Nya: “sesungguhnya Kami Allah akan menurunkan petunjuk ke dalam hati manusia”, sifatnya adalah Ilhamis.